Aktivitas PC atau Personal Computer sebagai wadah gaming telah menjadi sangat populer di masa kini. Berbeda dengan gamer di masa lalu yang umumnya mengandalkan arcade atau konsol rumahan, kini pengalaman bermain game di PC jauh lebih mudah diakses. Namun, meskipun perjalanan PC sebagai perangkat gaming sudah berlangsung lama, masih banyak yang ragu untuk memulainya. Terdapat banyak mitos PC gaming yang beredar, menyebabkan banyak orang salah paham akan kemampuan dan kebutuhan sebenarnya dari sebuah PC gaming.
Banyak anggapan keliru yang menilai PC Gaming sebagai pilihan yang lebih rumit dibandingkan konsol. Fenomena ini telah berkembang menjadi sejumlah besar kesalahpahaman PC gaming yang terus dipercaya, padahal sudah tidak lagi relevan dengan fakta di lapangan. Artikel ini akan membahas secara mendalam 8 mitos PC gaming yang sudah seharusnya tidak lagi dipercaya, seperti yang diulas oleh Gamebrott.com.

1. PC Gaming Pasti Mahal
Salah satu mitos PC gaming yang paling umum adalah anggapan bahwa membangun atau membeli PC gaming selalu membutuhkan biaya yang sangat besar. Memang benar bahwa untuk mendapatkan PC gaming dengan spesifikasi tertinggi yang menggunakan prosesor i9 atau kartu grafis kelas atas seperti RTX 5090, kalian perlu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Namun, bukan berarti ini adalah satu-satunya pilihan.
Kenyataannya, kalian masih bisa mendapatkan pengalaman bermain game yang nyaman dengan anggaran yang relatif kecil. Banyak komponen yang lebih terjangkau namun tetap menawarkan performa solid untuk sebagian besar game modern. Kesalahpahaman PC gaming ini seringkali menghalangi calon gamer untuk memulai karena asumsi biaya yang terlalu tinggi.

2. Perlu Upgrade PC Setiap 2-3 Tahun Sekali
Mitos lain yang sering dijumpai adalah keharusan untuk melakukan upgrade PC gaming setiap 2-3 tahun sekali. Anggapan ini juga keliru. Meskipun belakangan ini beberapa game AAA memang mulai menuntut spesifikasi yang lebih tinggi, jumlahnya sebenarnya tidak begitu banyak.
Masih banyak game menarik lainnya yang bisa dimainkan dengan spesifikasi yang tidak terlalu menohok. Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu dan harga komponen yang naik, upgrade PC terasa sebagai hal yang mewah. Jadi, selama PC Anda tidak rusak atau performanya masih memadai untuk game yang dimainkan, sebaiknya tunda dulu niat upgrade dalam waktu dekat, kecuali jika ada kebutuhan mendesak.

3. Semakin Banyak Core CPU, Semakin Baik
Mitos ini juga sepenuhnya salah. Kinerja sebuah game agar berjalan mulus tanpa stutter tidak hanya ditentukan oleh jumlah Core CPU saja. Ada beberapa faktor lain yang tak kalah penting, seperti clock speed, jumlah L2 dan L3 Cache, serta efisiensi keseluruhan dari prosesor tersebut.
Secara teknis, jumlah core CPU memang memiliki pengaruh, namun bukan merupakan satu-satunya penentu. Game-game jadul, misalnya, tidak membutuhkan banyak core dan hanya bisa mengutilisasi 1 atau 2 core saja. Game modern saat ini memang sudah memiliki performa multi-core yang lebih baik, tetapi efisiensi dan arsitektur juga berperan besar dalam pengalaman PC gaming.

4. Gaming PC Harus di Desktop atau Laptop
Jika mitos ini dilontarkan 10 tahun lalu, mungkin akan benar adanya. Namun, di era sekarang, pernyataan ini tidak lagi relevan. PC handheld seperti Aya Neo, Steam Deck, bahkan ROG Ally sudah banyak dijual bebas.
Perangkat-perangkat ini menjadikan opsi desktop atau laptop bukan lagi satu-satunya sarana untuk bermain game PC. Meskipun secara performa PC handheld masih kalah dengan desktop atau laptop karena keterbatasan form-factor dan daya, opsi bermain game secara handheld sudah sangat memungkinkan. Apalagi dengan berlangganan Cloud Gaming, fleksibilitas PC gaming semakin bertambah.

5. Monitor Refresh Rate Tinggi Hanyalah Gimmick
Mitos ini biasanya diucapkan oleh orang yang belum mencoba monitor refresh rate tinggi. Setelah seseorang mencoba memainkan game di monitor dengan refresh rate 180Hz atau 240Hz, akan sangat sulit untuk kembali ke refresh rate yang lebih rendah.
Kenyataannya, refresh rate tinggi sangat berguna untuk game kompetitif shooter. Pemain yang menggunakan monitor dengan refresh rate tinggi akan mendapatkan keunggulan karena informasi visual yang mereka terima lebih cepat dibandingkan mereka yang menggunakan refresh rate rendah. Hal ini memberikan keuntungan signifikan dalam reaksi dan pengambilan keputusan di dalam game.

6. Overclocking GPU Selalu Membuat Performa Lebih Baik
Mitos ini juga berkaitan dengan performa, di mana banyak yang berargumen bahwa melakukan overclock akan mengeluarkan potensi GPU secara penuh. Padahal, overclocking GPU hanya akan menaikkan performa GPU secara tidak begitu signifikan dibandingkan dengan daya yang ditariknya.
Justru sebaliknya, undervolting GPU adalah hal yang lebih disarankan, terutama untuk kartu GPU yang boros daya seperti kelas 80 atau 90 dari NVIDIA atau seri RX 9070 di AMD. Undervolting akan membuat kinerja GPU lebih efisien dengan tetap mempertahankan performa, namun dengan voltase yang diturunkan sehingga penggunaan daya Watt menjadi lebih rendah. Ini merupakan fakta penting dalam kesalahpahaman PC gaming mengenai performa.

7. Rakit PC Gaming Itu Sulit
Banyak calon gamer enggan merakit PC Gaming sendiri karena takut akan prosedur yang ribet dan membutuhkan banyak alat. Padahal, untuk melakukan perakitan PC, kalian hanya membutuhkan satu alat utama, yaitu obeng.
Dengan banyaknya panduan video di YouTube yang mengajarkan cara merakit PC, anggapan bahwa merakit PC itu sulit sudah seharusnya dianggap sebagai mitos PC gaming yang tidak berlaku lagi. Prosesnya kini jauh lebih mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau belajar.

8. Gamer PC Itu Pasti Membajak Game
Perlu diakui bahwa di platform PC gaming, tidak sedikit jumlah gamer yang memainkan game dengan cara membajak atau piracy. Hal ini berbeda dengan konsol zaman sekarang seperti PS5 dan Xbox Series X/S yang gamenya diwajibkan untuk dibeli agar bisa dinikmati.
Fleksibilitas PC gaming memang memungkinkan game di platform ini dibajak. Namun, tidak semua gamer memiliki pemikiran seperti itu. Banyak di antara mereka yang punya prinsip tidak mau membajak game karena menghargai developer atau kode etik yang mereka pegang. Bahkan, banyak yang menghindari bajakan dengan menunggu diskon agar game menjadi lebih terjangkau.

Kondisi kelangkaan RAM dan SSD telah membuat harga komponen kian mahal, terutama untuk generasi terbaru. Namun, banyak yang mengira kalau membeli generasi sebelumnya seperti DDR4 dan mungkin SSD SATA akan jauh tidak worth uang yang dikeluarkan. Anggapan itu tidak 100% salah, namun juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya.
Memilih spesifikasi yang lebih lawas berarti kita secara tidak langsung tidak berkontribusi terhadap kenaikan harga. Jika harga overprice tidak dibeli, besar kemungkinan produsen akan sadar bahwa mereka telah mematok harga yang tidak manusiawi. Jangan pernah membayar harga mark up!

Jadi, itulah beberapa mitos PC gaming yang mungkin sudah seharusnya punah. Dengan memahami kesalahpahaman PC gaming ini, diharapkan para calon gamer maupun yang sudah lama berkecimpung dapat memiliki pandangan yang lebih akurat dan realistis mengenai dunia PC gaming. Apakah masih ada mitos lain yang juga tidak kalah ngawur? Coba beri komentar kalian di bawah ya, brott.
