Serikat Pekerja Ubisoft secara tegas mendesak CEO perusahaan, Yves Guillemot, untuk segera mengundurkan diri dari jabatannya. Kondisi internal di Ubisoft semakin memburuk belakangan ini, memicu keresahan dan kemarahan di kalangan karyawan yang merasa kepercayaan mereka telah dikhianati. Desakan agar CEO Ubisoft Mundur ini muncul setelah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terus berlanjut, pembatalan beberapa proyek game, serta penutupan sejumlah studio, membuat banyak pekerja kehilangan keyakinan terhadap kepemimpinan saat ini. Informasi ini dilaporkan oleh Gamebrott.
Latar Belakang Desakan Mundur CEO Ubisoft
Karyawan di berbagai divisi Ubisoft tampaknya telah mencapai titik puncak kesabaran mereka, yang kini memicu seruan kolektif untuk perubahan signifikan di tubuh perusahaan. Sejak serangkaian gelombang PHK yang terus-menerus terjadi, diikuti dengan pembatalan beberapa proyek game yang sedang berjalan dan penutupan sejumlah studio, banyak karyawan merasakan adanya pengkhianatan. Kepercayaan mereka terhadap manajemen, khususnya terhadap Yves Guillemot, perlahan-lahan terkikis habis.
Baru-baru ini, perwakilan serikat pekerja Ubisoft menyampaikan peringatan keras bahwa manajemen perusahaan akan menghadapi kesulitan yang hampir mustahil untuk memulihkan kembali kepercayaan karyawan. Hal ini akan terus berlanjut selama CEO yang telah lama menjabat, Yves Guillemot, masih memegang kendali penuh atas perusahaan. Situasi ini menunjukkan adanya krisis kepemimpinan yang mendalam di dalam organisasi.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Game Developer, Marc Rutschlé dan Chakib Mataoui, yang merupakan perwakilan dari serikat Solidaires Informatique, menjelaskan bahwa suasana internal perusahaan sedang memanas secara signifikan. Mereka menyoroti bahwa banyak karyawan Ubisoft diliputi perasaan panik dan kemarahan setelah mengalami apa yang mereka tafsirkan sebagai bentuk pengkhianatan dari pihak manajemen. Kondisi ini memperkuat desakan agar CEO Ubisoft Mundur.
Menurut Rutschlé dan Mataoui, solusi terbaik untuk memulihkan prospek perusahaan dan mengembalikan kepercayaan para karyawannya adalah dengan pengunduran diri Yves Guillemot. Rutschlé menegaskan bahwa meskipun ia tidak menganggap seluruh masalah yang menimpa perusahaan ini sepenuhnya merupakan kesalahan pribadi Guillemot, sebagai seorang CEO, pada akhirnya Guillemot tetap menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas segala keputusan dan kondisi yang terjadi di Ubisoft.
Tanggung Jawab dan Kritikan Terhadap Yves Guillemot
Marc Rutschlé lebih lanjut menjelaskan pandangannya mengenai tanggung jawab seorang pemimpin. Ia menyatakan, “Pada akhirnya, itu (Ubisoft) perusahaan dia. Tapi orang-orang di sekelilingnya hanya mengiyakan saja. Hal yang sama juga menjadi masalah ketika skandal pelecehan seksual pada 2020.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kepemimpinan Yves Guillemot dipertanyakan tidak hanya pada isu saat ini, tetapi juga terkait penanganan krisis di masa lalu.

Selain itu, Guillemot juga menjadi sasaran kritik yang tajam di berbagai unggahan pada platform komunikasi internal perusahaan yang dikenal sebagai Agora. Beberapa karyawan secara terbuka mempertanyakan alasan mengapa ia masih tetap memimpin Ubisoft, terutama mengingat di bawah kepemimpinannya, perusahaan ini diperkirakan akan menghadapi total lima tahun periode pengurangan karyawan. Rencana efisiensi biaya senilai 500 juta euro ini dijadwalkan akan rampung pada tahun 2028, menambah tekanan terhadap posisi Yves Guillemot Mundur.
Ketika Rutschlé ditanya secara langsung mengenai apakah ia mengharapkan adanya pergantian kepemimpinan di posisi tertinggi perusahaan, ia menjawab dengan singkat namun tegas. Rutschlé menyatakan bahwa ia sudah tidak lagi menaruh harapan apa pun terhadap Yves Guillemot sebagai CEO Ubisoft saat ini. Pernyataan ini menunjukkan tingkat keputusasaan yang tinggi dari serikat pekerja.
Pandangan tersebut juga diamini sepenuhnya oleh Chakib Mataoui. Ia secara spesifik mempertanyakan keputusan Guillemot yang menunjuk putranya sendiri, Charlie Guillemot, sebagai co-CEO di anak perusahaan baru yang akan menaungi beberapa waralaba terbesar milik perusahaan. Mataoui melihat ini sebagai indikasi masalah yang lebih dalam dalam struktur kepemimpinan.
Fenomena ini bukan hanya sekadar isu nepotisme belaka. Kebiasaan Yves Guillemot dalam mengangkat orang-orang terdekatnya, menurut penilaian Mataoui, justru dinilai merugikan Ubisoft secara keseluruhan. Praktik semacam ini dikhawatirkan membuat perusahaan semakin sulit untuk melahirkan game-game yang benar-benar inovatif dan mampu meledak di pasar global. Salah satu artikel internal yang membahas dinamika di Ubisoft ini juga menyoroti perubahan dalam struktur kepemimpinan.
Isu Nepotisme dan Dampaknya pada Kreativitas
Mataoui menjelaskan bahwa praktik pengangkatan individu berdasarkan kedekatan, khususnya jika hanya terbatas pada lingkaran pertemanan sesama pria kulit putih, akan membatasi keragaman dalam pengambilan keputusan dan ide. Ia berujar, “Jika yang dipilih hanya teman-teman dekatnya yang sesama pria kulit putih, maka tidak ada ruang untuk keragaman, tidak ada sudut pandang baru, tidak ada ide segar.” Hal ini menjadi perhatian serius bagi Serikat Pekerja Ubisoft.
Mataoui menekankan pentingnya keragaman dalam lingkungan kerja kreatif seperti industri game. “Kita bekerja di bidang kreatif. Kita butuh gagasan baru untuk masuk agar bisa membuat game baru yang hebat. Tapi itu tidak terjadi. Pola pikir untuk mendorong kreativitas seperti itu tidak ada,” tambahnya. Kurangnya perspektif baru ini dinilai menghambat kemampuan Ubisoft untuk berinovasi dan menghasilkan karya yang menonjol di pasar yang kompetitif.

Berbagai alasan kuat yang diuraikan oleh serikat pekerja Ubisoft ini menegaskan kembali desakan agar Yves Guillemot Mundur dari jabatannya sebagai CEO. Krisis kepercayaan karyawan, keputusan manajemen yang merugikan, hingga isu nepotisme, semuanya menjadi fondasi utama tuntutan perubahan kepemimpinan di perusahaan pengembang game raksasa ini.
Demikian informasi terkini mengenai tuntutan dari kelompok Serikat Pekerja Ubisoft yang mendesak Yves Guillemot, selaku CEO perusahaan, untuk segera meletakkan jabatannya. Bagaimana pandangan Anda terhadap dinamika yang terjadi di Ubisoft saat ini?
